Sabtu, 10 Mei 2014

Persona

Topeng adalah benda seni yang biasanya digunakan oleh penari ketika tampil dalam pementasan. Biasa juga digunakan oleh aktor dalam pementasan drama semisal Kabuki. Bisa jadi mainan anak-anak yang berperan dengan hati karena "wanna be,"  alias ingin jadi sehebat yang digambarkan topeng yang dikenakan. Well itu kalau kita bicara benda.

Tanpa harus mengenakan topeng yang sesungguhnya, dalam sehari-hari manusia kerap mengenakan persona yang berbeda. Topeng yang tak kasat mata. Indikatornya apa? tingkah laku dong! Kalo dalam bahasa betawi lagu lu. Di lingkungan kantor terlihat alim, tapi di pos ronda ngomongnya bocor. Bicara dengan bawahan terlihat berwibawa namun jadi 'gila' ketika bertemu teman satu tongkrongan.


Berapa topeng yang biasanya anda kenakan?

Jujur deh, kadang topeng tak hanya satu. Di tempat kerja kerja tak banyak omong, pendiam dan penurut. Di rumah menjadi bawel dan sering marah-marah. Di tempat tongkrongan sikapnya jadi humoris dan senang guyon. Di lingkungan kompleks terkenal sebagai dermawan dan aktif dalam kegiatan sosial. Tuh kan... Tanpa sadar banyak sekali piala Citra yang harus dibagikan. Diketahui atau tidak, sengaja maupun tak sengaja, seseorang telah memainkan peranan.


Mengapa Kita Bersandiwara?

Ingat lagunya Ahmad Albar?

Dunia ini, panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah.
Kisah Mahabrata, atau tragedi dari Yunani.
Setiap kita, dapat satu peranan. yang harus kita mainkan.
Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura.
Mengapa Kita, bersandiwara?

Yak... dari bait di atas ketahuan kalau peranan alias persona ada dua. Yang disengaja dan yang tidak. Kalau tidak disengaja biasanya perannya yaa wajar-wajar saja. Atau biasanya peran yang terbawa oleh lingkungan sekitar. Di Majlis Ta'lim bicaranya selalu membawa dalil, dan tak segan memberi nasehat. Namun ketika tiba di jalan, cuma gara-gara liat-liatan sama pengemudi motor sport yang memainkan handel gas digerung-gerung maka langsung saja balapan. or worse... Hanya gara-gara pinjam motor Kawasaki Ninja 250cc lampu merah sih diterabas. Alasannya kadang tak masuk akal. Bawaan motor nih!, katanya.

Bagaimana jika topeng yang sengaja dibuat? Ahh... Itu biasanya karena pencitraan. Mulanya sih pasti tidak begitu. Awalnya juga karena terbawa oleh situasi. Biasanya karena status sosial, atau pangkat alias jabatan. Karena bekerja sebagai ustadz, maka ketika didepan orang-orang terlihat alim. tapi begitu tak dilihat orang dia naik motor di jalan kecil yang penuh anak-anak saja bisa kebut-kebutan 100 Km per jam.

Pencitraan bisa juga ditujukan untuk meraih massa, mempengaruhi orang untuk mencapai tujuan. Kadang kala dipergunakan karena takut dan sembunyi. Atau bahkan lebih buruk! Menipu! tipe yang paling dibenci dalam Islam alias munafik. Semua berasal dari satu sumber. Kebutuhan lah biang keroknya. Kalau diibaratkan seperti jalan-jalan di pasar malam dan tak sengaja melihat baju bagus dan keren. Karena naksir dan menginginkan benda itu, maka uang makan selama sepekan pun dikorbankan. Hal ini karena apa? Yaa... karena merasa baju tersebut menjadi kebutuhan yang prioritas. Dimulai dari panca indera dan teruskan sebagai nafsu.

Manusia kadang tak realistis. Menginginkan kesempurnaan dari dunia yang notabene tiada sempurna. Contoh lain, Seorang sahabat wanita mengeluh karena suami yang dinikahinya selama empat tahun ternyata menunjukkan diri yang sebenarnya.

"... Semua yang saya benci dari pria ternyata ada dalam suami saya. Waktu pertama kali pendekatan dan pacaran dia romantis. Berdandan ala eksekutif muda dan rapi. Setiap ketemu saya rambutnya basah dan wangi parfum musk. Sekarang, setiap keluar dia berdandan dengan baju belel dan yang nyebelin ada sisir nongol dari saku belakang kayak mas-mas yang suka nonton konser dangdut. Sekarang dia mandi pun jarang dan setiap keluar cukup pake Trika pelicin pakaian yang biasa saya gunakan ketika menyetrika. Dulu rajin ibadah, sekarang lebih rajin nongkrong sama teman-temannya nonton bola atau main gadget. Sebel. Coba waktu pacaran dulu saya tahu..."

Lagunya Andra and The Backbone yang judulnya Sempurna? Lupakan saja! Karena kesempurnaan lahir dari menerima ketidak sempurnaan. Jika anda masih ingin kesempurnaan, sana ke warung beli Sampoerna kretek, Dji Sam Soe, atau A Mild!

Perlukah Mengenakan Topeng?

Semua dikembalikan kepada pembaca. Jika ada yang merasa topeng ini berguna, yaa silahkan saja. Atau merasa ditipu oleh kepura-puraan dan menginginkan kebenaran, ow ya monggo wae. Mungkin sudah bosan anda membaca atau mendengar ini tapi, be yourself atau jadi diri sendiri itu lebih bijaksana. Nilai yang didapat dari pencitraan itu akan menjadi beban di kemudian hari, meskipun itu untuk tujuan baik atau buruk. Karena topeng yang sengaja dibuat itu sama dengan berbohong. Sekali kita berbohong, maka akan ada dusta lain untuk menutupi yang pertama. Face the truth... Maukah anda berbohong untuk selamanya?

Ingat Lagu Dewi Yull sama Broery Marantika. Jangan ada dusta di antara kita!

Senin, 21 April 2014

Gangguan Kecil di Soetta

Istri saya pergi dinas ke luar kota selama tiga hari. Sebuah rutinitas kerja dan resiko kalau jadi pegawai negeri sipil di departemen manapun. Makanya sore itu saya mengantarkan istri saya ke Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta.

Selesai berpesan jangan ini dan itu, dengan berat hati saya melepas kepergian sang istri. Memandangnya pergi dan menghilang dibalik kerumunan orang di pintu masuk penerbangan. Sedih sih, tapi sekarang saya harus pulang.

Pilihan transportasi umum dari Bandara memang bervariasi. Bisa saja naik bus Damri menuju berbagai arah, naik taksi, juga travel car. Bahkan transportasi yang tak anda duga. Ojek!

Singkat cerita, saya memilih naik taksi saja. Memang harus merogoh kocek lebih dalam, tapi setidaknya cuma sekali naik dan sampai ke rumah. Hanya saja bagi siapapun yang hendak naik taksi, waspadalah. Cari taksi yang benar-benar resmi. Jangan sampai naik taksi abal-abal yang tidak jelas. Memang sih gak perlu antre. Tapi dijamin bakal lebih mahal dari taksi resmi. Percayalah!

Setelah pesan taksi, ternyata antrean saya lumayan menyebalkan, delapan. Itu pun harus menunggu taksinya masuk. Sambil duduk dan bermain-main dengan hape, saya pun menunggu taksi saya. Belum berapa lama saya duduk, seorang pria berjaket hijau tentara mendekat dan duduk di samping saya.

"Parfum mas!", katanya sambil mengeluarkan kotak parfum besar merk Bvlgari.

"Hah?" Saya agak kaget

"Ini Lho, coba dulu aja parfumnya, wanginya enak nih." Katanya lagi.

"Apa? Enggak mas, saya gak pake parfum gituan," ujar saya sedikit geli. Wah dia gak mikir ya? Di botolnya aja tertulis for women alias buat cewek.

"Murah kok!" Ujarnya sambil menyorongkan box parfum itu pada saya.

"Wah enggak mas, makasih deh. Coba tawarin ke ibu-ibu atau mbak-mbak lain, siapa tahu ada yang mau." Ujar saya sambil menunjuk tulisan for Women di boks parfum.

Pria itu pun tersenyum lalu pergi. Saya cuma menggeleng dan merasa aneh. Terus terang selama hilir mudik main ke bandara. Baru sekarang ada yang seperti ini.

Baru semenit saya asik berkutat dengan game di hape saya, datanglah seorang wanita setengah baya duduk di samping saya.

"Permisi pak, siapa tahu minat. Saya jualan hape BlackBerry tipe baru lho. Murah kok! cuma sejutaan aja."Ujarnya sambil memperlihatkan isi tas jinjingnya. Dan memang saya lihat ada tiga kotak hape yang bersegel plastik.

"Wah makasih bu, saya..."

"Mau yang mana? tipe apa? saya terima transfer atm kok!"Ujarnya sambil menaruh kotak hape itu di pangkuan saya.

"Wah saya punya hape kok, makasih deh." Ujar saya sambil mengambil kotak hape itu dan meletakkannya kembali ke tasnya.

"Ayo pak, boleh dibuka dan dicoba kok!" Ujarnya lagi. Jujur saja, wanita ini memang cukup gigih. lebih dari sepuluh menit dia berjuang menawarkan dagangannya. meski akhirnya dia menyerah tanpa permisi begitu melihat ada pria muda berpakaian dandy yang duduk tak jauh dari saya. Jujur, saja rasanya ingin berterima kasih pada orang itu, namun melihat penderitaannya yang bingung saat di'serang' oleh si wanita dan dagangannya, saya kasihan juga sih.

Tak berapa lama datanglah pria yang tadi menawarkan saya parfum. Kali ini dia membawa dua kotak parfum. Aigner Black dan Jacomo.
"Nah kali ini buat cowok mas, tadi sih saya salah bawa," katanya tersenyum bangga.

Men!Jujur yang ini bikin saya menyeringai geli.

"Mas, coba tawarin parfum ke orang itu tuh!" Kata saya sambil menunjuk seorang pria yang berdiri sambil memegang tablet phone.

"Lho kalo mas kenapa memang?"jawabnya bego.

"Duh mas, liat aja saya. Saya bukan tipe laki-laki dandan kan? Kalau yang itu beda!" Ujar saya menunjuk pria dengan tab yang memang berpakaian necis. Kemeja ketat ala metrosexual, serta mengenakan skinny jeans.

"Coba deh!" saya menyarankan lagi. Sang pria itu mengangguk, kemudian menghampiri orang yang tadi saya tunjuk.

Baru selesai satu, si perempuan bertas jinjing penjual hape itu datang lagi ke saya.

"Nih pak, saya lihat kayaknya situ gak suka BB, jadi saya bawakan android tipe baru. Coba deh dilihat, barangnya ok punya kok." Katanya dengan wajah berapi-api, dan saya pun langsung tepok jidat.

"Aduh, mbak! coba lihat saya deh. Tampilannya aja kayak gini. Memangnya dari tampang saya kelihatan kayak yang sering gonta-ganti hape gituh?"

Wanita itu pun kini memandangi saya dari ujung rambut sampai ujung sendal. "Enggak sih," jawabnya.

"Tepat! jadi biar dagangannya laku mbak musti pinter pilih target." Jelas saya berlagak seolah konsultan marketing papan atas. Lucunya, si mbak ini bengong dan mendengarkan dengan seksama.

"Nih ya, lihat ibu-ibu disana yang pake anting besar dan pakai baju loreng kayak trio macan itu?" jawab saya menunjuk seorang ibu dengan troli yang sedang antre beli roti Papabunz.

"Saya yakin, dari gelagatnya, pasti dia ibu-ibu gaul tukang belanja yang sering gonta ganti hape. Coba deh tawarin. Moga-moga aja beruntung," ujar saya meyakinkan.

Wanita bertas jinjing itu pun segera meluncur seperti rudal ke arah wanita yang tadi saya tunjuk. Masih tanpa permisi juga. Tapi setidaknya saya bernapas lega. Gangguan sudah hilang sekarang. Dan kabar baik lagi, porter taksi memanggil saya, karena tumpangan saya sudah datang. Saya pun bangkit dan melangkah menuju kendaraan yang akan ditumpangi. Namun baru dua tiga langkah, pria penjual parfum itu tahu-tahu ada di depan saya.

"Sukses mas, dia beli satu. Kira-kira yang mana lagi ya yang suka parfum?" Ujarnya sambil cengengesan. Aduh, saya pun tepok jidat.

"Coba bapak yang pake jam mahal tuh," kata saya menunjuk seorang bapak yang sedang baca koran depan rumah makan junkfood A&W.Dan tanpa komando lebih lanjut pria itu menuju orang yang saya maksud.

Saya pun melangkah naik ke taksi sambil dicengirin sang porter taksi yang cekikikan bareng temannya. Baru saja saya mau naik ada suara keras yang membuat saya memalingkan wajah ke arah suara itu.


"Hati-hati di jalan ya pak!" Teriak si ibu bertas jinjing sambil mengacungkan jempol. Saya melambai sambil garuk kepala.

"Petukangan ya pak," kata si porter mempersilahkan saya masuk ke taksi.

"Oya..."

"Tadi banyak gangguan ya pak," Ujarnya sambil tertawa. Rupanya dia sedari tadi mungkin memperhatikan saya.'

"Ah engga, cuma buka praktek konsultan gratis," jawab saya.

Si porter terkekeh sambil menutup pintu mobil (Abah Ozi/4/2014)

Jumat, 29 November 2013

Dilema

Aku berdiri di antara mimpi dan realita. Aku melangkah di antara Jalan berduri dan beraspal. Menggeliat dan mengerang pada sifat dasar manusia yang paling membuat celaka. Lupa! 

Kini aku dihadapkan pada penentuan dengan waktu terbatas dan mencoba untuk memilih. logika atau mimpi? kuning atau putih, keinginan atau ketersediaan. 

Logika manusia selalu memilih kenikmatan duniawi. Sementara batin menjerit menginginkan kejujuran. Semua manusia mengalami hal ini. Memilih, adalah hal yang sulit. Selalu saja ada batas waktu, layaknya mengerjakan soal pilihan ganda ketika ujian sekolah. 

Kini harus diputuskan, tak bisa menunggu lebih lama. Dan aku terdiam dalam gundah. Terombang-ambing antara realitas dan mimpi. 

Baik. Ini faktanya: Uang di saku celanaku tinggal tujuh ribu rupiah. Cukup jika makan mi ayam satu mangkok. Pilihan lain adalah nasi warteg dengan lauk cukup sayur mayur tanpa ayam atau daging. 

Bahayanya, mataku keburu kepincut rendang dan ayam gulai yang nangkring di etalase warung nasi Padang, dengan resiko buru-buru cari teman yang mau meminjamkan uang setidaknya dua puluh ribu rupiah. 

Kondisi saat ini: Lupa bawa dompet. Perut sudah mengeluarkan nada bariton disertai tenor dengan ketukan satu per delapan. Kalau harus cari teman yang paling dekat, rasanya aku tidak sanggup. Ibarat telepon genggam, baterenya cuma tersisa satu setrip dan berkedip dengan mesra setiap per setengah detik. 

Sungguh dilema... 

Maaf , Daku Khilaf

Manusia kadang suka lupa. Saya pun tak terkecuali. Dulu ketika jadi tukang reparasi komputer, saya dengan pedenya bilang pada pelanggan saya kalau power supply komputernya rusak dan harus diganti.

"CPU-nya gak mau nyala pak, power supplynya ganti ya?"
Sang pemilik komputer yang sedari tadi memperhatikan saya malah mesem. "Masa sih mas, waktu ngecek CPU,  kabel power udah dicolok belum?"
"Oh iya!" Saya tepok jidat.


Malu?Sudah pasti!

Tengsin? Jelas!

Khilaf? Udah jangan dibahas!

Saya punya kebiasaan jorok. Ngupil seenaknya dan menaruh 'harta karun' itu dimana saja. Kadang dioles ke dinding, bisa juga nangkring di gorden. Meski sudah dimarahi istri berulang kali, tapi kebiasaan buruk itu susah hilang. Pernah juga saya lupa, tepat didepan batang hidung dia, saya hendak menempelkan upil ke 1.267 di dinding dapur.

"JANGAN TARO UPIL DISITUUU!" Teriak istri sayah marah.
"Oh iya, maaf sayang, daku khilaf," saya agak kaget juga. Soalnya suara teriakan tadi bisa dibilang ctar membahana.
"Gimana sih," sang istri pun manyun.
"Ya, ya... Enggak lagi-lagi kok." Jawab saya sambil menepuk bahunya.

Saya pun pergi dari dapur menuju ruang depan. Tapi tampaknya saya teringat sesuatu yang salah. Upil saya dimana? Buru-buru menuju dapur dan disanalah saya menemukan sang upil bertengger di bahu sang istri dengan anggunnya. Dalam hati saya bilang, "Maaf sitriku, daku khilaf lagih!"

Sedikit Bercermin

Kadang hidup memang tidak mudah. Maaf, menjalani hidup selalu tidak pernah mudah. Sebaik apapun rencana yang kita buat, tidak selalu berjalan sempurna. Hey, tapi justru itulah uniknya hidup. Selalu berubah.

Kita menyangka Sejumlah orang mungkin menghadapi hidup lebih baik. Pekerjaan dengan gaji tinggi, kehidupan percintaan yang nyaman, Jauh dari masalah. Kata siapa? belum tentu seperti itu. Kita kadang menilai orang lain terlalu tinggi. Semua orang  punya masalah masing-masing. Setiap individu berbeda, maka takdir mereka pun berbeda. Meski mungkin bisa jadi jatuh cinta pada orang yang sama.

Kadang masalah lain timbul ketika kita menilai orang lain lebih rendah. Mungkin merasa lebih pintar dari si A, atau punya pacar lebih cantik dari si B, menganggap si c tak punya iman, merasa lebih kaya dari si D, so what? kita lupa kalau orang yang kita anggap lebih rendah, mungkin punya kelebihan lain yang tidak kita miliki. Jadi, jangan pernah menilai rendah pada siapapun. Terutama dari sisi moral. Saya pernah melihat seorang ustadz naik motor ugal-ugalan di jalan, sementara seorang preman menghentikan kendaraan di depan lampu merah pada jam 2 dini hari.

Hidup memang sulit, jadi tidak usah mencoba mempermudah segala hal. Meminta seorangoffice boy mengambilkan air minum sementara galon air hanya dua langkah dari tempat kita duduk. Please, kita punya tangan, punya kaki. Kalau mau minum saja harus bergantung pada orang lain, pantaskah kita hidup?

Kadang juga kita terlalu memperumit masalah. Andai kita tahu, rumitnya permasalahan hanya terjadi karena beberapa hal. Tidak mengerti permasalahan, mungkin juga terjadi kebohongan, atau menutupi ego alias enggan menyadari kelemahan, bisa jadi ada kebencian. Hanya itulah yang terjadi ketika masalah kecil menjadi ruwet.

Sebagian besar dari kita selalu mengatakan "Harusnya!" Harusnya pekerjaan itu dikerjakan seperti ini, harusnya jangan begitu, harusnya begini, harusnya begitu. Harus mengikuti kaidah yang dibuat manusia, yang notabene kita sendiri. Bukan berarti tak boleh. Ketika ada menjadi atasan dalam sebuah pekerjaan, itu memang semestinya. Dalam kehidupan? Kata Iwan Fals "Masalah moral, masalah akhlak. Biar kami cari sendiri."

Kebaikan tidak datang dari kata harusnya. Hidup tidak harus menerima perintah, namun menyadari memilah tanggung jawab. Mana tanggung jawab yang harus kita dahulukan. Etika manusia cuma bualan agar seseorang menjalani apa yang diinginkan manusia lain. Namun selama itu baik, silahkan jalani. Jika tidak, silahkan tanggung sendiri. Hidup tidak mudah, jadi pikirkan dan jalani apa yang bisa kita lakukan. Kalau hanya dipikirkan saja maka banyak malasnya, jika hanya dijalankan tanpa berpikir maka banyak salahnya.

Kehidupan yang kita miliki adalah anugrah. Hidup banyak masalah bagaikan makan masakan Padang yang banyak bumbunya. Hidup lurus saja, akan membosankan seperti nonton sinetron yang kisahnya hanya itu-itu saja. Menjalaninya memang sulit, namun toh kita semua sama-sama belajar. Sedikit bercermin adalah hal yang baik. Ya kan?

Nasi Goreng

Nasi goreng bukanlah makanan terfavorit. Jarang sekali ada orang Indonesia yang menempatkan makanan ini sebagai makanan terenak dalam daftar makanan yang paling disukai di Indonesia.

Menu nasi goreng adalah makanan yang go international, let's face the truth! Nasi goreng bukan makanan traktiran awal gajian bagi karyawan. Tukang nasi goreng didatangi hanya ketika malam hari ketika semua warung makanan sudah tutup. Mungkin juga dibeli karena kalender sudah menunjukkan tanggal tua.

Memasak nasi goreng tidak sulit. Delapan dari sepuluh orang teman saya mengaku bisa membuat nasi goreng. Enam di antara mereka ternyata memasak hidangan itu dengan rasa yang lumayan enak. Nasi goreng bukan menu yang mengerikan bagi siapapun yang baru pertama kali memasak. Sayur asem bisa dibilang lebih menakutkan, terutama bagi pemasak pemula. Dari tingkatan memasak termudah, nasi goreng masuk dalam urutan sepuluh besar. Urutan tertinggi masakan termudah ternyata masih dipegang oleh air alias 'masak air' dan mi instan.

Opini di atas jangan anda jadikan patokan serta merta. Membuat nasi goreng yang benar-benar enak, tidaklah semudah masak air. Air matang tidak perlu bumbu. Tapi nasi goreng harus terasa asin, manis dan pedasnya. Dalam ilmu memasak, bumbu tidak boleh kurang dan lebih. Seperti halnya dalam ibadah agama. Contohnya dalam Islam, ibadah yang lebih atau kurang bisa berakibat bid'ah. Sedangkan bila masakan, kelebihan garam atau kurang bisa menjadikan makanan berakhir di tempat sampah.

Sebagian besar orang Indonesia, pernah mencicipi nasi goreng. Bagi yang pernah merasakan menjadi mahasiswa apalagi tinggal di kosan, nasi goreng adalah penyelamat perut anda di saat uang kiriman orang tua hampir minus. nasi goreng, bisa jadi teman setia bagi yang tengah membuat skripsi di tengah malam. Namun tidak pernah ada terpampang tulisan nasi goreng dalam lembar ucapan terima kasih dalam skripsi.

Bagi karyawan di akhir bulan, nasi goreng adalah bisa jadi menu sepekan menuju gajian. Sayangnya, setelah berduit, mereka melupakan sosok nasi goreng begitu saja. Bila rupiah sudah di tangan, mereka lebih memilih makanan yang notabene lebih mahal dari sekadar nasi goreng. Misalkan saja rendang daging, sate kambing, bahkan ada yang merindukan masakan barat seperti pizza atau lasagna. Sungguh terlaaaaluh!

Bisnis nasi goreng adalah usaha kuliner yang berbeda dari usaha sejenisnya. Bilamana martabak atau ayam bakar laris di awal bulan, tukang nasi goreng malah berjaya di tanggal tua. Alasannya, anda tahu sendiri bukan?

Melupakan nasi goreng begitu saja, out of menu? Sungguh kejam. Setidaknya dengan membaca tulisan ini, anda mulai berpikir untuk merasa bersalah. Kemudian sehabis gajian langsung mampir ke tukang nasi goreng. Jangan lupakan dia begitu saja. Berikan menu ini kredit yang pantas. Tapi jangan pula membelinya secara kredit. Itu memalukan!

Sebagai penutup, saya tahu, anda berpikir tulisan ini lebay!(OZI)

Kamis, 08 November 2012

Salah Asumsi Karena Penampilan

Orang-orang selalu salah menafsirkan apa yang mereka lihat. Beberapa orang menilai hanya lewat cara berpakaian dan asesoris yang dikenakan. Itu saja sudah cukup! Kemudian langsung saja berasumsi. Celakanya, hasil hipotesis berpangkal pada teori cetek itu selalu saja salah!

"Kamu orang batak ya?" Tanya seseorang yang saya kenal baru-baru ini.
"Kata siapa, muka gua emang kayak bodat?" Saya balik tanya.
Sahabat saya tertawa. "Bukan itu bang, muka kau persegi alias kotak, kukira kau batak!"
Semprul...



Saya pernah ditanya kenapa saya mengenakan bendo alias blangkon yang kadang malah jadi salah sangka karena saya dikira orang Jawa Tengah.
"Bukan orang Jawa kok pake blangkon mas? Tanya seorang sahabat.
"Emang lu pikir cuma orang Jawa Tengah aja yang punya iket kepala mirip blangkon?" Jawab saya bertanya balik setengah sensi. Payah! Saya mulai berpikir kalau saya salah mengenakan simbol yang harusnya memperlihatkan identitas diri saya.

Tampaknya apa yang kita kenakan juga berpengaruh besar terhadap penilaian orang. Gara-gara pakai rompi coklat dengan kantung disana-sini. Saya pernah diusir oleh satpam perumahan. Ceritanya begini, Saya menunggu sahabat saya dipintu masuk kompleks perumahannya. Tiba-tiba seorang satpam mendekat dan menghardik. "Jangan ngojek disini pak!"
"Saya bukan tukang ojek mas," sanggah saya.
"Lha itu, rompinya!"
"Saya lagi nunggu temen" Jawab saya lagi.
"Alesan, sono pergi! Ojek jangan mangkal disini!" Ujar si satpam tanpa mau melihat alasan saya lebih lanjut.

Pernah saya datang ke kantor istri saya. Baru saja tiba di gerbang depan, seorang satpam menarik tangan saya dan menyuruh saya ke pos. Di pos keamanan itu saya pun ditanyai.
"Mas, saya mau betulin rumah, kira-kira situ selesai benerin lantai atas kapan?"
"Mm...Maaf pak? Maksudnya?" Saya benar-benar bingung.
"Gini, saya mau renovasi rumah. Gimana kalau mas lihat dulu rumah saya ditaksir dulu, kira-kira habisnya berapa. Rencananya saya mau nge-dak juga. Kapan ada waktu?"
Sekarang saya baru mengerti. Mungkin saya dianggap tukang bangunan. Soalnya saya datang dengan sendal jepit dan jaket lusuh. Oh iya, plus topi rimba yang juga bladus. Tampaknya ada bagian di gedung ini sedang direnovasi juga. Jadi pasti si jelek ini mengira saya kuli bangunan.
Lagi-lagi dasar semprul...

Meski demikian, saya tak mau merubah penampilan. Saya suka pakaian yang nyaman. Sementara pakaian paling nyaman ternyata adalah kaos butut dan celana belel. Meski gara-gara itu saya ditahan satpam ketika mau nabung di bank.
"Mau ngapain mas?" Tanya si satpam.
"Yaa mau nabung pak."Jawab saya singkat.
"Oo... Kirain mau ngerampok." celoteh dia seenaknya tanpa memikirkan perasaan saya.
Saya kesal sekali. Apalagi beberapa menit kemudian ala saya duduk menunggu antrean kasir, si satpam dengan ramahnya menyapa seorang pria tua yang mengenakan jas mahal, berjalan sambil memeluk wanita muda berpakaian minim. Lelaki tua itu bicara dengan suara keras dan tidak sopan. Malah tertawa sangat keras yang membuat beberapa orang yang ada disana melirik dengan perasaan tidak suka.

Saya tahu, kebanyakan orang melihat dari penampilan. Seperti halnya ketika saya memasuki toko elektronik dan pramuniaganya menjelaskan pada saya dengan ketus mengenai perbedaan rice cooker dan magic jar. Bukan fungsinya yang saya mau tanya, tapi harganya. Tapi sang pramuniaga itu melayani seorang bapak berkemaja dan berdasi dengan ramah meski hanya membeli sebuah tespen. Aih, dasar orang Indonesia!

Tulisan ini bisa diartikan saya sirik! Oke, puas! Buat orang-orang di Cibitung yang masih minta jimat dan pengasihan gara-gara liat saya pake blangkon dan mirip dukun. Silahkan antre di ruang tunggu!

Lagi-lagi




Sepekan yang lalu saya dihubungi seseorang tak dikenal lewat nomer XL.

Yang Nelpon (YN): Selamat siang!
Sayah (SY) : Siang
YN : Saya Nita dari XXX Travel pak! Kami bermaksud menawarkan promo tiket pesawat
       murah dengan diskon sampai 30 %.
SY : Maaf Mbak, saya gak minat. (Saya pun menekan tombol voice call recording)
YN : Wah sayang sekali, saya tadinya mau memberi bapak diskon 30% untuk tiket
       tujuan apa saja.
       Maskapai penerbangannya juga boleh bapak pilih sendiri. Menjelang lebaran begini susah
       lho pak dapat tiket diskon.
SY : Saya gak pulang naik pesawat mbak!
YN : Lho kenapa pak? Pesawat kan lebih cepat pak. Bapak mudik kemana? Sumatra? Jawa?
SY : Cianjur mbak! Jadi gak usah pakai pesawat. Pake motor 3 jam juga nyampe kok.
YN : Kalau gitu bisa untuk siapa saja kok pak. Mungkin mertuanya? Adik? teman?
SY : Maaf mbak, gak minat. Sudah dulu ya, saya lagi sibuk.
YN : Sebentar saja pak
       enggak mengganggu kok! (Lhooo, itu kan harusnya gueh yang menentukan)     
       Mungkin teman kerjanya pak. Bapak sedang sibuk kerja ya? Mungkin ada temannya
       yang minat?
SY : Gak ada Mbak. Saya sedang sibuk sekali. Sudah ya...
YN : Sebentar saja lagi pak. Kami
       punya diskon untuk Garuda lho pak. Bisa pilih kursi juga lagi.
SY : Mbak saya sibuk. Saya lagi berusaha ngambil biji cabe yang lagi nyelip digigi belakang.
       Selamat siang!
YN : Gini pak...
TUUUUUUT... Hape pun saya matikan
Beberapa menit kemudian telepon genggam saya berdering lagi.

YN : Selamat siang saya Nita dari XXX Travel...
SY : Lho kok mbak nelpon lagi sih, maaf mbak saya sudah beristri.
YN : Lho kok bapak lagi yang ngangkat, saya juga mau kontak nomer lain kok. Lagian
       saya juga sudah punya pacar. Lebih ganteng dari bapak lagi!
TUUUUT...telepon pun terputus.

Saya menggerutu panjang kali lebar kali tinggi. Nih orang yang nelpon gak tau kalau muka guah mirip artis Bollywood kali yak? Di telepon kan muka gak keliatan! Huh, baru pacar aje somse. Hape saya pun berdering kembali. Dan lagi-lagi nomer yang tadi.

YN : Selamat siang, saya Nita dari XXX Travel...
SY : Aduh mbak, kok nelpon lagi sih? Saya udah punya istri mbak!
YN : Siapa yang mau nelpon bapak? Bapak punya nomer hape berapa biji sih? Lagian,
       saya kan udah bilang, saya punya pacar lebih cakep dibanding bapak.
SY : Istri saya juga pastinya lebih montok dari mbak!
YN : Lho kata siapa? Saya cantik pak, banyak yang naksir. Banyak bintang film
       naksir ngeliat saya!
SY : Bintang pilem plora dan pauna kali mbak. Lagian belum tentu pacar situ lebih ganteng,
       kan situ belum ketampanan wajah sayah. Kata ibu saya, wajah saya ini campuran
       dari  Amitab Bachan dan Barry Prima tauk!
YN : iiih, itu muka kampungan pak! pacar saya wajahnya mirip Collin Farrel tauk.
SY : Siapa tuh? Tukang ikan asin di Pasar Manggarai yak?
YN : Tuuh kan bapak gak tau, Colin Farrel itu artis Holywood pak! Dasar Ndeso!
SY : Biarin Ndeso, sampeyan naksir saya kan? buktinya nelepon melulu!
YN : KATAAA SIAPAAA!!
SY : Yaa kata saya dong...
TUUUUT... telepon terputus.

Tak berapa lama, hape saya berdering lagi.
YN : Selamat siang, saya...
SY : Amitab bachan mirip saya lho!
YN : BODO!
TUUUUUT..... Hape terputus TUUUUT, saya juga kentut.

KRIIIIING....

YN : Selamat siang, saya Nita dari...
SY : Hai, kok masih nelpon sih?
YN : PACAR SAYA MIRIP BRAT PITT!
SY : Lho, katanya tadi mirip kolin ngepel?
YN : Oh IYA... Udah pak ah, saya capek!
SY : Ya udah, tidur sana!
YN : Bukan gitu... Hiiiiih, ngeselin banget sih.
SY : Memang saya suka makan ikan asin mbak!
TUUUUUT......

KRRIIIIING...
YN : Selamat siang, saya... Eh ini bukan bapak yang tadi kan?
SY : Bukan, saya Amitab Bachan...
TUUUTTT.......

Lama berselang, telepon genggam kembali bergoyang.
YN : Selamt siang, dengan siapa saya bicara?
SY : Amitab Bachan yang mirip Barry Prima!
YN : SIALAAAAAAAAAAAN!
SY : Sama-sama mbak, maaf lahir batin juga.
TUUUUUUUT......

Jumat, 20 April 2012

Lagi-lagi Sepeda Motor


Ngomongin tentang ulah pengendara sepeda motor memang gak pernah ada habisnya. Kemarin saya nyaris celaka gara-gara ulah sepeda motor setelah turun dari angkutan umum.

Ceritanya saya dan sejumlah penumpang baru saja turun dari angkutan kota jurusan Bekasi-Cikarang. Tumben, sopir angkutan yang saya tumpangi adalah tipe pengendara yang ngerti sopan santun di jalan raya. dia tidak ngetem di persimpangan jalan dan ogah kebut-kebutan. Maklum, mungkin karena sopirnya udah aki-aki kali yak. Wallahu...

Disingkat biar padat, saat lalu lintas sedang padat, saya dan sejumlah penumpang minta pada sang sopir angkot untuk diberhentikan di depan Pasar Induk Cibitung. Sang sopir pun menghentikan kendaraannya di tepi jalan. Tiga orang turun lebih dahulu, baru setelah itu saya turun terakhir. Tiba-tiba ada sepeda motor keluar dari balik mobil di belakang angkutan yang saya tumpangi. Sepeda motor itu melaju kencang dan kala itu sejumlah orang yang ada di tepi jalan berteriak, "Awas pak!" Saya reflek mengalihkan pandangan ke sebelah kiri. Namun terlambat, ban bagian depan sepeda motor itu sudah menghajar kaki kiri saya. Seketika itu saya jatuh terduduk dengan punggung menghantam trotoar jalan. Believe me, its hurt...!

Untunglah sepeda motor  berhenti, jadi saya tidak tergilas roda jahatnya itu. beberapa orang yang ada disana membantu saya berdiri. Belum sempat saya berdiri tegak, sang pengendara sepeda motor tiba-tiba berteriak menghardik saya. "Gila, mau mati  luh!" 

Mendengar ucapan pengendara sepeda motor itu, kontan emosi saya naik sampai ke ubun-ubun. Tanpa memperdulikan sakit karena jatuh tadi, saya cepat menghampiri dan langsung menarik lepas helm si pengendara motor itu. Tanpa basa-basi (maklum esmosi), saya pukul bahunya dengan helm yang tadi saya rampas. "ANJ**NG! Lu yang mati bang**t!"

Rupanya beberapa orang yang ada di tepi jalan pun ikut terpancing emosi. Mereka menghampiri si pengendara motor dan tanpa basa-basi ikut melayangkan tinju dan tendangan pamungkas. Si pengendara motor pun jatuh terguling bersama motornya. Terdengar dia berteriak meminta ampun. Namun tampaknya tidak ada yang menggubris. Baru setelah seorang anggota polisi datang dan melerai, tinju-tinju itu bisa terhenti.

Si pengendara motor itu pun harus pasrah digelandang polisi ke pos yang tak jauh dari TKP. Saya pun diminta ikut untuk dimintai keterangan. Di pos polisi, sang pengendara motor itu meminta maaf dan memohon untuk tidak membawa kasus ini ke meja hijau. Saya bisa maklum alasan permintaannya itu. Zaman sekarang, kasus sekecil apapun bisa saja jadi besar! Saya pun minta maaf telah memukulnya dengan helm.

Oleh polisi, saya dimintai keterangan dan menandatangani surat berita acara. Isinya, saya telah menjadi korban kecelakaan lalu lintas, namun hanya mendapat luka ringan. Setelah itu, saya pun diperbolehkan pergi. Entah apa yang akan terjadi dengan si pengendara motor itu. Namun saya yakin, pastinya tidak akan menyenangkan. lucunya, hati saya separuh senang dan setengah menyesal. Gak jelas kenapa.

 Jangan ugal-ugalan di jalan sobat!  

Kamis, 05 April 2012

Cinta dan Doyan


Cinta? Ih apaan sih itu? Tak perlu dijabarkan pun semua orang toh pastinya sudah mengerti apa itu cinta. Jangankan dewasa atau remaja, bocah yang baru duduk di bangku sekolah dasar juga pasti tahu, bahkan mungkin pernah merasakan.

Cinta tuh katanya perasaan kasih dan sayang yang tulus kepada seseorang atau sesuatu. Intinya, cinta bisa jadi level yang lebih tinggi dari suka (menyukai). Kok aneh ya? Lalu apa bedanya cinta dengan doyan. Doyan juga kan bisa didefinisikan lebih banyak kadarnya dibandingkan suka. Cinta=Doyan? Mungkin saja! Toh kalau doyan, bisa saja berkorban sama seperti si cinta. Jadi, apakah doyan lebih tinggi dari cinta? Ah saya kurang tahu tuh...

Hanya saja semua pasti setuju, kata doyan lebih banyak punya makna lebih negatif dibanding cinta. Coba bandingkan dua kata berikut:

Saya cinta rupiah.

Saya doyan rupiah.

Anda pasti setuju kalau Cinta lebih memiliki makna denotatif dibandingkan doyan. Tapi, mari kita telaah hal berikut:

Kalau anda cinta, anda pasti suka. Jika anda cinta, anda pasti sayang. Jika anda sayang, pasti akan berkorban. Anda pasti akan sakit hati jika cinta anda tidak dihadapan mata. Anda pasti marah kalau cinta anda hilang dan akan mencarinya.

Kalau anda doyan, pasti nya suka banget. Jika anda doyan anda pasti sayang akan kedoyanan anda. Demi kedoyanan, anda pasti berkorban. Jika kedoyanan anda tak ada dihadapan mata, anda pasti mencarinya atau mungkin kesal.

Nah, kok dari sudut aksi-reaksi tak jauh berbeda ya?

Mungkin akan ada anggapan seperti ini: Kalau begitu, efek kehilangan dari cinta lebih sakit dibandingkan doyan. Misalkan, kalau mencintai seorang gadis, tentunya perasaan akan galau dan tak menentu. kalau doyan kan tak ada efek seperti itu. Heiiit... tahan dulu pikiran anda sampai disitu.

Baiklah, mari kita bandingkan cinta kekasih dengan doyan judi. Kok enggak dibandingkan dengan doyan kekasih sih? Soalnya itu tidak umum, makanya kita bandingkan dengan hal yang biasa kita dengar dulu. Toh efeknya sama saja.

Sehari tidak bertemu kekasih tercinta, anda akan galau. Sehari saja kedoyanan judi tidak terpenuhi, pikiran pasti tak menentu. Kalau tak bertemu kekasih rasanya wajahnya selalu terbayang. Kalau sehari enggak judi, pikiran melanglang buana untuk mencari rumusan nomer togel. Kalau bertemu kekasih, rasanya hati senang bukan main. Jika bertemu bandar judi pastinya girang dan langsung pasang nomer togel. Menunggu pacar rasanya berdebar. Menunggu pengumuman nomer togel, kok ya tak bisa tidur? Kalau ditinggalkan kekasih sakitnya minta ampun. Kalau nomer judi togel tidak tembus, hawanya pengen marah-marah dan kesal.

Jika demikian toh rasanya kok cinta dan doyan itu sama saja ya? Rasanya membosankan kalau kita menyatakan perasaan hati lalu bilang aku cinta padamu! Jadi, katakanlah mulai sekarang: Aku doyan padamu! Jadi gak pasaran, ya tooh...

Komunikatif vs Tata Bahasa Baku


Beberapa bulan yang lalu saya dikritik oleh seorang guru bahasa Indonesia. Kritik itu dilontarkan ketika setelah saya tampil berbicara dalam sebuah forum komunitas. Begini katanya:

"Saudara harusnya belajar lagi tata bahasa yang baik dan benar. Saya pikir cara bertutur anda sangat represif, namun sangat disayangkan sekali tidak baku. Anda harusnya belajar lagi retorika dan tata bahasa!" Demikian saran beliau. Saya pun berterima kasih atas saran tersebut.


Tak berapa lama berselang, kami bertemu lagi di acara komunitas yang sama. Kebetulan kami berdua, sama-sama jadi pembicara. Setelah acara selesai, tiba-tiba beliau marah pada saya. "Jujur saja, saya kecewa pada anda. Saya sudah kasih anda saran baik-baik. Tapi kenapa pula anda tidak mendengarkan? Bicara seenaknya dengan bahasa prokem dicampur bahasa daerah seperti itu malah menurunkan citra diri anda. Anda harusnya malu mas!" demikian katanya sambil mengangkat telunjuknya didepan wajah saya.

Ih, hati saya kueseeeeel bukan main. Andaikan ada air diguyur ke kepala, pasti langsung berasap kayak penggorengan baru diturunin dari atas kompor. Jujur saja, saya memang kurang taat pada tata bahasa. Hal ini disebabkan saya besar di lingkungan komunikasi, bukan di lingkungan sastra. Buat saya, apapun bahasanya, asalkan kena dan tepat sasaran sih sah-sah saja tuh. Asalkan komunikator (pembicara) ngomong ke komunikan (pendengar) dan si komunikan ngudeng alias ngerti, otomatis kaidah komunikasi terpenuhi. Baik secara informasi, maupun secara empati. Dan bahasa empati sulit dimengerti atau disampaikan kalau medianya baku!

Jujur saja deh, berapa orang sih disini yang curhat dengan bahasa yang baku? Curhat pake EYD? ah, engga adda kaleee... Memang sih ada forum yang mengharuskan kita berbicara dengan bahasa baku. Jujur-jujuran yuk, pasti deh kebanyakan tidak menyimak alias hawanya pengen tidur. kaidah komunikasi terpenuhi? Ah, paling cuma beberapa gelintir orang saja. Sisanya? Zzzzzz...zzzz...

Andaikan saja, Presiden Esbeye mau ngomong dengan bahasa prokem dan acakadut seperti sayah, pastinya rakyat akan lebih memahami perasaan beliau (mungkin). Secara , beliau kan seneng curhat. Pasti bakal terdengar lucu, tapi gak papa tuh. Kita butuh bahasa-bahasa urakan seperti itu dari pemimpin kita. Setidaknya jadi enggak ada jarak antara rakyat dan pemimpin.

Coba ya, kalau sosialisasi kenaikan BBM, bilangnya kayak gini:

"Sori bener nih bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. kulo bingung iki, tapi yo wis kudu tak bilangi wae. Sebenernya kagak enak nih kita, tapi pegimane atuh. kayaknye harga bensin emang kudu naek inih. Soalnye kita udah nalangin buat bensin kebanyakan pak! Kudunye, nih duit buat bensin kan bisa buat anak-anak pade sekole, atawa buat usaha laen biar kite semua pada maju... Kayaknye sih kagak ada jalan laen, jadi talangan buat bengsin kite kurangin.. maaf bener nih. Tapi yee gimana lagih atuh. buat kita-kita orang juga pan?" Kok jadi bahasa betawi ya?

Ada juga yang bilang begini, bahasa yang santun adalah ciri orang berilmu. Ah, santun kan enggak harus bahasa Indonesia baku toh. Sama seperti halnya muslim yang baik tak harus jadi orang Arab yang baik. Menyalahi sumpah pemuda? Berbahasa satu, bahasa Indonesia? Kan enggak disebut Bahasa Indonesia Baku? Jadi enggak menyalahi juga atuh. Prokem dan bahasa alay juga kebanyakan bahasa Indonesia. Biarpun ternyata bahasa Inggrisnya kentel juga. So what getto loooo...? Kesannya jadi kayak Singlish alias Singaporean English. Hohohoho...

Ada juga yang bilang: Kenapa juga harus ngikutin kaidah ya? Kok bukan kaidah sih yang mengikuti kita. Sayangnya memang kaidah selalu mengikuti perkembangan zaman. Buktinya makin banyak kata serapan baru. Tapi si kaidah dan tata bahasa jalannya lambat seperti siput. Dengan kata lain kalau diikutin dari belakang malah bikin telmi alias telat mikir.

Kok gitu?

Bodo amat ah.. notes-notes gue! Ngomong opo kek lambe-lambe dewe... Karep-karep ku kok. Sopo arep protes?

Hasilnya? Soimah Pancawati lebih populer dan diterima masyarakat dibandingkan Esbeye!

Senin, 26 Maret 2012

Revisi Spanduk


Pertengahan Maret 2012 ini banyak demonstrasi soal harga kenaikan bahan bakar yang katanya bakal naik sebentar lagi. Tak ketinggalan kawan sayah si Jujun tukang warung yang spesialis juga tukang demo ikutan turun ke jalan bawa spanduk bertuliskan : Turunkan premium. Saya yang kebetulan sedang di lokasi demonstrasi jadi bingung melihat tulisan spanduk si Jujun.

"Jun, kok turunkan premium?" Tanya saya.

"Maksudnya bengsin kang! masa gitu aja bingung," jawab si Jujun.

"Premium kan artinnya bukan bensin Jun!"

"Masa sih kang? Kalo gitu harus saya rubah spanduknya." Kata si Jujun. Setelah wara-wiri mencari spidol, akhirnya spanduk karton si Jujun jadi bertuliskan: Turunkan premium! (maksudnya bensin premium)

Saya yang tidak sreg melihat tulisan di spanduk si Jujun jadi komentar lagih. "Jun, memangnya cuma bensin premium yang turun? Kalau Pertamax gimana? Belum lagi gas melon tiga kilo?"

"Waduh, si akang mah. Kenapa gak bilang dari tadi atuh!" Akhirnyah spanduk si Jujun pun kembali direvisi. Sekarang tulisannya menjadi : Turunkan Premium! (maksudnya bensin premium) Pertamax sama gas melon & elpiji juga!

"Gimana kang, udah sip belum?" Tanya Jujun sambil nyengir-nyengir gak jelas.

"Kok jadi acakadut beginih sih? Teorinya begini Jun, spanduk kamu teh harus komunikatif!"

"Gimana atuh? oh, tulis aja jangan naikkan BBM yah kang?" si Jujun kini garuk-garuk kepala kayak orang bingung.

"Tetap aja ga komplit Jun. Namanya BBM pasti berimbas pada kenaikan sembako, kenaikan harga angkot atau ojek, malahan sampai kenaikan celana kolor." Demikian sayah menerangkan.

"Mmm... begitu ya kang, kalau gitu gini aja deh."Ujar si Jujun mengagguk entah ngerti atau enggak.

Kertas karton spanduk pun dibalik. Dengan mantap si Jujun mulai menuliskan kata-kata baru di kertas yang masih kosong itu. Hasilnya:

"JANGAN NAIKKAN HARGA APAPUN DI MUKA BUMI INI!"

"Gimana kang, akur enggak?" Ujar si Jujun tersenyum bangga melihat tulisan di spanduk.

"Sip lah, berarti kalau gua belanja di warung lu harganya jangan dinaikin yak!" Ujar si gueh tersenyum senang.

"Waduh!" Si Jujun tampak panik, lalu si spanduk kembali ditulisi spidol lagi.

Hasilnya:

"JANGAN NAIKKAN HARGA APAPUN DI MUKA BUMI INI"

(Warung saya terkecuali)

(Kang Ngozi/Blogspot)


Foto courtesy: http://img.antaranews.com/new/2012/03/ori/20120302DemoBBM010312-4.jpg (foto milik Antara Sumut)

Jangan Cuma Kutip Ayat!


Akhir-akhir ini banyak sekali yang mengutip ayat Qur'an atau hadits sekadar untuk status pesbuk, twitter, bahkan Blackberry Messenger. Dengan alasan yang sangat mulia, "Sebarkan walau hanya satu ayat."

Ih jujur saja, saya bukannya mau usil. Tapi rasanya ada kaidah lain untk menyebarkan kebaikan kitab, sunnah, ataupun hadits yang dikutip dan disebarkan via social network manapun. Sudahkah yang mengutip kalimat mulia itu mengamalkan apa yang dikutipnya?

Jujur saja deh, sebagian besar penulis pesan mulia itu belum tentu bisa atau dapat mengamalkan nilai yang terkandung dalan tulisannya. Jika demikian yang berlaku, maka bagaikan tong kosong nyaring bunyinya. Aih maaf, kok kayaknya kejam sekali ya? Maksudnya disini hanya sekedar mengingatkan.

Berarti kalau gitu kita tak akan bisa 'berkata' atau mengamalkan kebaikan dong? Haih kata siapa? Naif sekali seperti lagu posesif. Menurut saya pribadi, ada cara lain mengatakan ayat kebaikan selain mengutipnya secara langsung. Katakan sesuatu yang pernah anda alami atau lakukan. Selebihnya, jangan mengatakan hal yang anda belum mengerti dan menerka berdasarkan logika manusiawi. Akan terjadi salah persepsi jika ilmunya saja tidak anda kuasai. Jikalau bukan pakarnya, tunggu saja kehancurannya. Kecuali anda spesialis tukang merubuhkan bangunan.

Sahabat saya Pakde Warman pernah berkata begini. Dunia sangat luas, ditopang oleh tangan-tangan kecil yang memiliki fungsi tersendiri. Jikalau tangan kecil itu adalah individu, maka ada tugas dan fungsi yang diemban oleh tangan-tangan itu. Ada tangan spesial pegang palu, ada yang pegang gergaji, mungkin ada juga yang pegang duit. Semua sudah ada bagiannya. Seperti ada tangan yang spesialis pegang Qur'an, atau spesialis pegang catatan togel.

Saya bertanya pada yang lebih tahu, katanya: Manusia lebih melihat bahasa gestur dibandingkan bahasa verbal. Awalnya saya bingung, Kok bisa? Kata Pakde, seseorang akan bertanya soal bikin kusen pada sang spesialis pegang palu. Ketika seseorang yang biasa pegang komputer ngomong soal pekerjaan perkayuan, pastinya tidak akan digubris. Ih dasar manusia nyak!

Intinya sih: Kalau orang lain melihat kita jumatan atau pegang Qur'an saja tidak pernah, bagaimana pula dia percaya ketika kita bicara Firman Allah SWT? Mungkin begitu kali yaa...

Eh jangan karena tulisan ini berarti anda urungkan niat untuk menyebarkan kebaikan lewat jejaring sosial. Enggak kok, tuliskanlah ayat bagus itu dengan catatan sudah anda amalkan. Maksud saya disini jangan asal 'Omdo' alias omong doang! Sebarkan karena anda telah membuktikan! Bukan disebarkan dengan niatan agar dinilai alim atau hanya sekadar Riya.(Kang Ngozi/Blogspot)

Selasa, 13 Maret 2012


Ternyata bikin jemuran teh gampang-gampang susah. Gampang, karena cuman bikin tiang dikasih palang dan ditancep ke tanah, kasih tali dan olala... Sebuah jemuran pun siap dihidangkan (lu kata makanan apa!). teknisnya mah, ternyata tidak seperti ituh.

Bayangkan coba. Peluh si sayah bercucuran waktu ngangkat kayu balok . Capek setengah mati waktu menggergaji tuh kayu. Malahan sempat pingsan tak sadarkan diri waktu membuat palangan kayu berbentuk menyerupai salib. Pasalnya jempol kesayangan tak sengaja terkena hantaman palu godam dan seketika daku menjerit. Saat itu juga langit berwarna merah, bumi retak dan terdengar suara angin ribut... (terlalu dramatis kali yak, sori atuh)

Tapi sayang seribu sayang, tiang jemuran sudah selesai ditancapkan ketanah, malahan dikasih adonan semen dan pasir (sebenarnya dikasih sedikit vanili dan telor satu butir), tiang tak juga tertancap kuat. Digoyang sedikit, langsung saja roboh. Atas hasil pemikiran saya yang berintelejensi tinggi, jenius, sehat dan rajin menabung ini, tiang jemuran tidak kuat berdiri karena dudukan tiang bukanlah tanah. Melainkan puing-puing batu dan jelas tak kuat menahan beban tiang yang berat.

Sang jenius pun duduk termenung di depan pagar sambil memikirkan langkah yang harus ditempuh agar tiang jemuran bisa berdiri kuat. Saat itulah Si Asep tukang es doger lewat di depan si ganteng ini.

"Kenapa kang? kok ngalamun wae?" sapanya sambil menepuk bahu sayah.

"Gak bisa diri sep, kumaha atuh," ujar saya menjawab dengan tatapan meratap yang anggun.

"Makanya kang, coba minum Irek, kalo enggak aladina kapsul. Kalo gak bisa diri juga coba ajah ke On Klinik!"

"Hah?"

Mas Slamet

Mas Slamet adalah mahluk Tuhan dari daerah Slawi yang berprofesi sebagai koki martabak manis dan telor, salah satu sahabat karib terbaik yang saya miliki. Bakat masak dan selera kulinernya terhadap masakan Indonesia benar-benar luar biasa. Terlebih dari itu,dia adalah salah satu mahluk setres yang paling nyambung dengan saya.

Suatu hari saya pernah menggoda mas Slamet yang sedang asyik membanting-banting adonan terigu untuk membuat martabak telor. "Mas... kalo dagang jangan marah-marah terus! ... kasian dong adonan disiksa begitu. Dikepel-kepel, dibanting-banting, udah gitu digoreng lagi pake minyak panas!"

Tukang martabak itu malah ketawa. "Justru saya banting-banting ini adonan biar dia badannya enakan kang. Tadi dia bilang ma saya, badannya pegel. Tau masuk angin, tau apa... Jadi saya pijet biar dia enakan. Udah gitu kan biar bersih saya mandiin pake minyak panas. Saya orangnya baik kaaaan.."

Pernah ketika mencoba motor Honda Grand yang baru dibeli, Slamet tak sengaja menabrak angkutan kota. Ketika saya tanya kenapa dia bisa nabrak angkot, slamet malah marah-marah.

"Salah angkotnya tuh. Kenapa dia parkirnya di pinggir jalan? coba dia parkirnya di Ramayana (swalayan). Kan saya jadinya gak nabrak dia. Iya kan?"

Suatu hari saya berkunjung ke rumah si Tukang martabak. Dia langsung inisiatif memberikan suguhan.

"Ni kang, kopine. Mau ngerokok juga boleh."

"Mana kopinya mas?" Tanya saya bingung. Mata saya kan engga katarak, udah jelas yang dibawanya cuma air putih."

"Ya ini," kata dia sambil menunjuk air putih.

"Itu mah aer putih atuh mas!"

"Ini kopi kang, cuma udah saya saring. Situ kan tamu. Masak tamu saya suguhin kopi item jelek begitu. Biar gak item mangkane saya saring. Ya ini jadinya!"


Tribute to Sodikin alias Mas Slamet!

Minggu, 11 Maret 2012

Sahabat Aneh yang Baik

27 Februari 2012

Terakhir begadang bersama sahabat saya Yaya adalah malam yang tak pernah terlupakan. Bukan sekadar nongkrong karena iseng, Yaya yang memiliki toko reparasi dan jual beli komputer meminta bantuan saya untuk membetulkan sejumlah CPU milik pelanggannya. Saya tentu saja bersedia, karena imbalannya lumayan untuk nambah-nambah uang saku. Karenanya, saya datang ke toko komputer miliknya yang juga merangkap sebagai warnet.


28 Februari 2012

Sekitar jam 19.00 WIB, vespa yang saya kendarai parkir dihalaman ruko. baru saja datang, sudah disambut oleh gurauan Pakde Warman dan Johan yang kebetulan sedang ada di beranda toko. "Si Jalu gak ngadat tuh di jalan?" Gurau Pakde Warman. Si Jalu adalah nama yang Vespa jenis P150X milik saya. Sekadar tambahan Jalu sendiri singkatan dari 'Jaman Dulu.'

"Gak dong Pakde, Si Jalu mah gak ada matinya!" Demikian jawab saya.

"Asal sampai sini jangan tinggal setang saja bang, onderdilnya berantakan di belakang. Ha ha ha..." Komen si Johan yang langsung saya balas dengan pose mulut manyun.

"Bos komputer udah nunggu tuh," tambah Pakde Warman.

"Siap!" Saya pun masuk ke dalam toko.

Suasana toko komputer Yaya saat itu lebih mirip kapal pecah. Dus-dus berserakan di lantai. Isinya? Apalagi kalau bukan spare part komputer. "Nih toko apa isi kapal Titanic?" Komentar saya pada Yaya yang tampaknya sibuk dengan kertas catatan di tangannya.

"Eh Kang Cepod, lagi data barang nih!" Ujarnya sambil garuk-garuk kepala dengan pensil.

"Jatah gawean gue yang mana Ya?"

"Anu kang, tolong cek motherboard sekenan tuh. Udah saya tumpuk deket meja!" Ujarnya sambil menunjuk dua dus besar tepat disamping meja reparasi. Lagi-lagi dengan pensil.

"Ok!"

Setelah menggantung jaket, menyimpan tas dan buang air besar, barulah saya mengerjakan pekerjaan bagian saya. Saat itu Si Johan sudah sibuk memindah-mindahkan sejumlah barang. Yaya sibuk dengan catatannya sambil sesekali menghitung sejumlah barang tertentu. Sementara Pakde Warman membuatkan kopi untuk kami, setelahnya malah mengomentari berita di televisi mengenai kasus korupsi. Yang jelas, semua sibuk.

Selesai mendata barang, Yaya turun membantu pekerjaan saya. Si Johan sibuk main catur dengan pakde sambel ngobrol ngalor-ngidul.

29 Februari 2012

Baru pukul 03.00 pagi, kami bersama sejenak. Itu pun terpicu gara-gara ada tukang nasi goreng lewat. Sambil makan nasi goreng bersama kami duduk di beranda toko. Suasana jalan saat itu memang sepi. Jadi bisa ngobrol santai. Pasalnya kalau siang hari, jalan di depan toko lumayan rame, jadi ngobrol pun harus agak berteriak.

Obrolan kami berempat seperti biasa selalu penuh canda. Hingga entah bagaimana, berujung pada obrolan serius. Mulanya sih ngobrolin cita-cita yang jauh dari pekerjaan sekarang. Pakde Warman bercerita, ketika kecil bercita-cita menjadi penyanyi atau seniman seperti idolanya: Said Effendi dan Sam Saimun.

"Entah bagaimana saya kok malah jadi bekerja di pabrik kopi. Padahal kalau saya jadi penyanyi, saya pasti lebih terkenal dibanding Broery!" cerita Pakde yang kami timpali dengan tawa.

"Wah Pakde, kalau jadi artis, manapula ketemu saya dan main catur!" ujar Johan terkekeh.

"Hahaha, bisa aja kamu Jo. Kamu sendiri gimana?" Tanya pakde.

"Waduh bagaimana ya. Tapi janji jangan tertawa kalian ya!" Ujar Johan sambil mendelik ke arah saya. Maklum, saya adalah orang yang paling sering beradu ejekan dengan mahluk asli Medan itu.

"Cepetan napa Jo!" Saya sambil menyeruput teh manis hangat.

"Aku ketika kecil ingin kali jadi pengacara seperti ...." Belum selesai dia bicara, kami bertiga sudah terkikik.

"Heh macam mana malah ketawa sih? Aneh ya?"

"Bukan aneh Jo, orang Batak udah banyak yang jadi pengacara tauk!" kata si Yaya.

"Tau ah, pasaran bener sih!" tambah saya yang di balas dengan lemparan kertas tissue makan bekas pakai oleh si Johan.

"Gapapa Jo, bagus kok!" Pakde menepuk bahu Johan.

"Ingin kali aku jadi pengacara terkenal macamnya Adnan Buyung itu pak! Jadi pembela kebenaran lah, hahaha."

"Pembela kebetulan kali?" ejek saya lagi.

"Pengen kali sekolah hukum, soalnya zaman sekolah dulu sering dihukum. Hahaha," Johan ngakak.

"Walah pengacara kok sekolahnya banyak dihukum. Bandel kali ya? Kalau Yaya pengennya apa?" Tanya Pakde. Yaya menarik napas sejenak. "Tak ada pekerjaan yang saya cita-citakan Pakde." Jawabnya.

"Lho kok macam begitu?" Johan garuk-garuk kepala."

"Bukan gitu Jo. Pekerjaan apapun gak masalah deh. Yang jelas cuma pengen kerja apa saja asal penghasilannya halal. Nikah dan punya istri yang baek dan punya anak. Meninggal dan punya warisan untuk anak cucu!" Ujar Yaya dengan wajah serius.

"Enteng benar cita-cita kau!" kata Johan sambil menyalakan sebatang rokok.

"Salah Jo! itu malah sulit!" Sanggah saya.

"Kok bisa? Semua orang kan bisa seperti itu." Si Jo mengerutkan dahi.

"Wah Jo kita gak bisa liat masa depan dong! Kita gak bakal tau Jo. Apa bisa menikah atau tidak. Kita juga gak bisa tahu, bakal punya anak atau tidak. Kita gak tahu, bakal punya harta untuk diwarisin apa enggak. Malah gak akan pernah tahu, meninggal di usia tua atau muda!" Terang saya yang dijawab anggukan oleh Pakde Warman.

"Saya setuju Kang, bisa dibilang cita-cita mas Yaya ini seperti sepertine menggambar bebas di kertas takdir. Tapi takdir kan digariskan oleh hukum sebab akibat yang manusia perbuat. Ibarat lukisan van Gogh, sesaa seperti lukisan biasa, namun ternyata bernilai lebih dari yang manusia bayangkan." Jelas Pakde Warman.

"Ah pakde, pakai bahasa yang tidak bikin kepala pening dong!" Johan garuk-garuk kepala lagi.

"Bukan gitu Jo, menurut gue. Kehidupan ideal buat gua pribadi tuh kayak gitu. Makanya jadi cita-cita. Eh kok malah jadi ngebahas cita-cita gua sih?" Yaya kini mulai menepuki nyamuk yang mendarat di tubuhnya.

"Habis gak umum bos!" ungkap Johan terkekeh.

"Yaa gitu deh, kalau Akang?" Tanya Yaya sambil menoleh pada saya.

"Cita-cita sekarang apa waktu dulu kecil?"

"Waduh, curang! Kok dua sih?" Protes Johan.

"Biarin!" Saya mencibir si Batak itu.

"Waktu kecil dulu deh, sampeyan pengen opo?" tanya Pakde.

"Dulu waktu kecil, saya pengen banget punya restaurant atau kafe sendiri."

"Kalau sekarang Kang?" Tanya Yaya.

Saya menarik napas sejenak. Sulit sekali mengatakan hal ini dihadapan sahabat-sahabat dekat saya itu.

"Wooooi, naek ojek dong biar cepet!" Ujar Yaya tak sabar.

"Kalau sekarang, cuma berharap jangan mati dulu sebelum bisa membahagiakan orang yang saya sayang!" Ungkap saya serius.

"Hey Kang, jangan pesimis gitu dong. Biarpun punya penyakit jan...." belum selesai Johan bicara Yaya sudah menimpalinya.

"Kalau saya pikir sih umur di tangan Tuhan Kang. Kita gak akan bisa tahu kok. Bisa jadi malah si Johan duluan, atau saya. Hahaha..." Ujar Yaya tertawa. Mungkin untuk mencairkan suasana.

"Setuju tuh mas. Tapi menurut saya pribadi, Akang kita ini manusia tangguh yang menertawakan dunia. Jujur saya salut sama Mas Yaya dan Kang Cepod. Pemikiran kalian ndak cocok untuk zaman ini. Saya pribadi seumuran sampeyan ndak kepikiran sejauh itu lho." Kata-kata Pakde ini saya anggap sebagai pujian tersendiri walau jujur saja, rasanya seperti ditaksir terlalu tinggi. Yaya mengernyitkan dahi, saya tahu, mungkin dia berpikir hal yang sama seperti saya.

Usai mengobrol dan bercanda. Pakde Warman pamit pulang. Rumahnya kebetulan bersebelahan dengan Toko komputer Yaya. Si Johan sendiri malah selonjoran di kursi, dan tak lama ngorok sambil dibuai mimpi. Hanya saya dan Yaya yang masih meneruskan pekerjaan reparasi. Biar sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami ngobrol santai sekadar menghilangkan ngantuk.

Saat itu tiba-tiba Yaya mengajukan pertanyaan serius. "Eh, menurut akang saya orangnya aneh enggak sih?"

Saya menarik alis ke atas, lalu menyimpan solder uap yang ada di tangan saya. "Emang kenapa?"

"Ah enggak cuma pengen tahu!" Ujar Yaya menatap saya serius.

"Apa Ya? Yang jelas aneh atau tidak, lu temen gua yang baik kok" Jawab saya.

"Masa sih?" Si Yaya tertawa.

"Kalau gak percaya belah aja dada si Johan!" Tambah saya. Si Yaya tertawa terbahak.

"Ngapain dada si Johan pake dibelah, mendingan belah dada ayam, terus digoreng. kan enak tuh."

"Lagian kenapa lu nanya kayak mau nembak cewek aja. Maaf gua gak homo! Lagian gua udah punya istri!" ungkap saya.

"Makasih kalau serius mah. Akang juga sohib aneh yang baik. Hahaha..."

Kami pun melanjutkan pekerjaan kami. Setelah shalat subuh, Yaya sudah meluruskan tubuhnya di atas alas kardus. Saya sendiri juga melakukan hal yang sama. Tas yang saya bawa sengaja saya jadikan bantal.

"Kang..!" Panggil Yaya.

"Hmmm... Berisik ah! molor aja deh!"

"Enggak, kalau di kira-kira yang meninggal duluan saya apa Akang ya?" Tanya Yaya lagi.

"Ngapain dipikirin sih, itu mah urusan gusti Allah laah." Ujar saya.

"Ah enggak sih cuma penasaran." Tambah Yaya. Saya tak lagi mendengar pertanyaan Yaya yang lain, saya sudah terlelap.

11 Maret 2012

Suasana Taman pemakaman umum di daerah Perwira Bekasi dipenuhi oleh sejumlah orang berwajah muram dan sedih. Saya juga disana, berdiri memandangi gundukan tanah dan nisan di areal pemakaman. Di Nisan tersebut tertulis: Innalillahi wa inna Ilaihi raaji'uun. Yahya Suryapranata, Garut 17 Juli 1980 - Bekasi 11 Maret 2012.

Disamping saya, Johan menitikkan air mata. Kemudian dia menyalami sejumlah kenalan dan sahabat. Tepat disebelah saya Pakde Warman, dia menepuk bahu saya sambil
bibirnya berkomat-kamit. Mungkin dia sedang berdoa.

"Saya gak pernah nyangka lo Kang. Mas Yaya meninggal secepet ini. Kecelakaan motor lagi. Qodho dan Qodarnya Allah." Ujar Pakde Warman. Saya hanya diam saja. Perlahan mata saya terasa panas dan berair. Dalam hati saya mengucapkan doa. Semoga Allah memberikan tempat yang baik bagi Yaya.

Sebelum pergi, kata hati berbisik lirih. "Selamat tinggal sahabat baik yang aneh! Mungkin kita akan bertemu lagi. Mungkin esok atau entah kapan!"



In Memoriam: Yahya Suryapranata.

Minggu, 26 Februari 2012

Jagoan dan Penjahat


Beberapa hari yang lalu, dokter Siswanto menelepon saya. Beliau mengabarkan kalau hasil medical checkup sudah selesai dan dapat diambil. Sebenarnya saya harus konsultasi kesehatan sebulan dua kali, tapi dasar bandel saya tak pernah menampakkan batang hidung saya di tempat praktik beliau.

Alasan paling utama saya tak pernah konsul pada pak Siswanto karena dokter ini mirip seperti Sybil Trelawney, salah satu pengajar Hogwarts di novel Harry Potter-nya J.K. Rowling. Trelawney adalah guru pelajaran ramalan yang sangat doyan meramalkan hal buruk atau kematian seseorang. Nah dokter Siswanto punya hobi yang kira-kira sama dengan Mrs. Trelawney. Saat Maret 2009 silam, dia pernah meramalkan saya akan mati sebulan lagi gara-gara nikotin. Sempat juga dia bilang umur saya cuma sampai awal tahun 2010 karena kadar kolesterol dalam tubuh saya dua kali lipat dari batas normal. Pernah juga saya katanya akan meninggal sepekan lagi dengan mata dan hidung keluar darah, padahal saya saat itu cuma kena flu dan batuk berat.

Sempat saya mempertanyakan pada dokter Siswanto kenapa hasil diagnosa beliau selalu berujung pada kematian. Dia menjawab sambil melotot. "Kamu tahu? dengan kondisi tubuh kamu seperti sekarang, ada baiknya kamu cepat-cepat bertobat pada Tuhan dan mulai mendisiplinkan tubuh supaya tetap sehat dan bugar. Jauhi rokok dan makanan berlemak. Jika tidak, akan lebih baik kamu mati cepat-cepat dan berharap supaya sakit kamu tak berkepajangan yang nantinya merepotkan banyak orang terutama keluarga. Lagian toh semua manusia akan mati kan? Termasuk kamu juga!" Kalau dia sudah nyerocos sepanjang itu, saya cuma bisa menarik napas panjang.

"Maaf dok, bukannya saya tak percaya. Saya pasti mati kok. Bener deh, saya yakin. Tapi maaf dok, jagoan tak akan mati semudah itu!" Ujar saya tak mau kalah.

"Saya setuju, jagoan memang tidak akan mati semudah itu, kalau soal matinya rada sulit, penjahat juga sama mas. Bajingan dan pendosa kelas kakap juga tak akan mati semudah itu. Tapi tetap bakalan mati juga. Lihat saja cerita di film dan novel!" Ketus pak dokter.

"Menurut dokter saya yang mana?"

"Buat saya sudah jelas dong! Badan kamu kan udah berantakan persis kayak tampangmu yang kucel begitu. Mmm.. Nyatanya, memang kamu matinya agak susah, meski sudah diramalkan berkali-kali. Jadi buat saya kamu dedengkot penjahat!" Ujar pak dokter sambil manggut-manggut.

"Kalo saya penjahatnya, jagoannya siapa dok?" Tanya saya rada mesem dan bete.

"Kok ditanya sih. Pembela kebenaran itu bisa dibedakan dari penampilannya. Liat dong pakaian saya putih bersih. Jagoan itu juga selalu tampil ganteng dan keren. Nah, saya kurang ganteng apanya coba? Berarti sayalah jagoannya!" Jawab pak Siswanto mantap.

Jika sudah adu mulut seperti itu, lebih baik saya sudahi dengan kata 'permisi' saja. Kalau makin ditambah, urusan tidak hanya sampai hati, tapi juga menusuk sampai ke jantung. Sebelum pulang dia sering menepuk bahu saya sambil tersenyum. "Check up lagi nanti ya! Jangan bandel." katanya.

"Ah bapak ini gimana sih, penjahat super kan harus bandel." Jawab saya.

"Kalau kamu sering konsul kesini, saya nanti akan rekrut kamu jadi jagoan deh." Kata pak dokter setengah berbisik.

Kamis, 26 Mei 2011

Masalah bahasa 1



Saya suka bingung sendiri kalau bicara masalah bahasa. Baik bahasa Indonesia, sunda, apalagi bahasa asing. Mungkin karena sayah diciptakan sebagai mahluk jenius dan berbakti pada nusa dan bangsa ini terlalu serius memikirkan masalah beginian (Jenius dan gelo kan beda tipis!). Gak percaya? coba kita telaah yang ngaco berikut ini.

Contoh: Si Dadang 'buang hajat' di toilet. Hajat disini berarti kotoran yang keluar dari pantat itu kan? Lalu kenapa 'hajatan' sering diartikan sebagai kenduri atau resepsi pernikahan? Harusnya 'hajatan' adalah diartikan: membuang kotoran dari pantat secara bersama-sama alias nongkrong berjama'ah. Padahal padanan 'buang' plus 'hajat' sering digunakan lho.

Bajing: sejenis tupai yang makan buah-buahan. kalau kita pakai akhiran -an lagih, kan jadinya 'bajingan' ya toh. Harusnya berarti Bajing yang lagi ngumpul. Entah lagi ngobrol atau rapat umum pemegang saham. Saya ndak ngerti mas! Kalau pengen tau kenapa para bajing itu ngumpul bareng, silakan tanya sama bajingnya. Namun umumnya, bajingan diartikan masyarakat sebagai orang yang kelakuannya kurang ajar. entah tukang mabok, judi, berkelakuan kasar, atau apalah.. (info lebih lanjut tanyakan saja pada sang bajingan tersebut).

Saya suka bingung kalau mengartikan 'selangkangan.' Kalau kata temen sih berarti tempat di antara pangkal paha dan bawah pusar. Tapi menurut si gueh, oww tida wissa dialtikang begicuuh... Selangkangan! Selang artinya pipa air dari plastik. Kang bisa diartikan kakak dalam bahasa sunda, dan -an adalah akhiran yang suka diartikan jamak alias banyak. Berarti bisa diartikan sebagai: Para kakak (kan jamak!) yang lagi pegang selang bersama-sama. Ngapain lagi coba, pegang selang kalau bukan nyiram tanaman atau nyuci kendaraan bermotor? Jadi buat saya, Selangkangan artinya: Tukang Cuci Mobil atau Tukang/pegawai taman.

Pernah teman saya bilang, "Duh mobil gua kotor nih!"

Trus daku bilang: "Cuci dong, biar gak cape pake selangkangan!"

"Gila luh. Masa mobil gua dicuci pake aer kencing?"

Siapakah yang salah ? Jelas teman saya itu dooong... IQ dia tidak setinggi sayah!

Rabu, 25 Mei 2011

Medley Palsu

Jang Husen datang ke rumah jam delapan pagi. Mengganggu kenikmatan saya yang mencoba menyelesaikan game PS 2 prince of persia yang tinggal seucrit maning. Udah begitu, bertamu tak bawa oleh-oleh pula, minimal bawa semur jengkol atau sate ayam 50 tusuk kek. Malahan minta diseduhin kopi kapal api jangan pake gula tapi manisnya pake susu kental manis sajah. Hih... Emang rumah gue warung kopi lay...

Husen duduk di ruang tamu sambil meniupi isi gelas kopinya dan mulai bercerita serius.

"Sayah bingung kang!" katanya sambil menyalakan sebatang rokok gudang garam filter yang sebenarnya tidak termasuk ke dalam suguhan.

"Gak nanya!" jawab saya sambil mengamankan bungkus rokok yang isinya tinggal sebatang lagi.
Dasar muka tembok, si Husen tetap bercerita panjang kali lebar kali tinggi.

"Saya maunya kawin sama si Yayuk, pacar saya yang sekarang. Tapi Si Risma naksir berat sama saya, dah gitu akang kan tau sendiri, dia kaya!"

Saya mendelik bete, tapi dasar tuh anak ndablek jadi dia terus saja bercerita sambil ngupi dan ngudud.

"Kalo kawin ma si Yayuk, tekanan batin Kang! Tau sendiri kalo bapaknya gak setuju si Yayuk kawin ma saya yang cuma tukang ojek. Tapi kalo saya kawin ma si Wati, pasti gampang karena bapaknya kan ce-es saya di pos ronda dan sering maen catur bareng." Si Husen kembali meneguk kopinya.

"Si Wati sih cakep, tapi bodinya agak bongsor dan kalah seksi sama si Susan. Itu loh, cewek yang saya sering ngelanggan saya ngojek. Pokoke bodinya bahenol banget Kang, kalau saya jalan bareng dia, mata para cowok-cowok kayak ngeliatin iri begitu. Mana dia gak pernah pake baju lebih lagi, bajunya selalu kurang bahan," kopi susu pun diseruput lagi.

"Srius luh mau kawin?" Tanya saya agak penasaran juga.

"Yaaa.. nanti kalau punya duit."

"Kapan punya duit?"

"Gak tau kang, ini aja udah 5 hari bangun pagi pengen ngupi ma ngerokok saya nebeng di rumah sampeyan. Berarti kan saya sekarang lagi cekak." Kata si Husen sambil menyeruput sisa kopi di gelasnya.

"Terus ngapain luh curhat pengen kawin?" sambil memperhatikan si Husen yang sudah mulai berdiri dari posisi duduknya.

"Biar ada obrolan kang.. kan sepi kalau ngopi gak sambil ngobrol. Suwun kopine Kang, aku narik ojek dulu yaak.."

Si Husen pun pergi sambil bersiul-siul, tidak memperhatikan dirikuh yang duduk dengan perasaan hancur lebur ini.

Aah sudahlah, memang mahluk itu begituh. Mendingan juga daku ngerokok sambil ngopi. Tapi loh kok, ketika dibuka nih rokok tinggal bungkusnya doang. Bukannya tadi masih ada sebatang? Jadiii.....

"AAAAARRRGH..... HUSEEEEEEEEEEEEN!!!

Godaan

Saya menerima sms dari Mas Slamet jam 9.27 pagi ini. Isinya sangat simpel namun cukup membuat saya nyengir sendiri. SMSnya begini: "Kang Cepot! Dolan nang omah, kita jajal pe-es baru. Ana kupi sama gorengan." Hohoho, teks ini yang rasanya membuat berpikir untuk segera ganti pakaian, melaju sekencang-kencangnya dengan vespa butut menuju ke rumah tukang martabak itu. Tapi, oww tida wissa toyol... Saya harus selesaikan bikin RSK hari ini. Lagian sampel gambar harus bisa dikirim besok, jadi hari ini harus kelar.



Pukul 9. 45 WIB, Yaya si tukang komputer datang dengan muka ruwet.

"Gila, reparasian gue kok gak kelar-kelar kang. Mana yang satu biji Macbook susah banget lagih diakalinnya. Belum lagi Elevo titipan situ memorinya ga tau kenape. Jadi tiap diinstal Android lappy-nya hang. Pusing nih, mancing ke Rawa Domba nyok? Biar Freeesssh!"

Kuuuunyuuuuk nih mahluk.. Godaan lebih berat datang juga. Ajakan mancing si Yaya benar-benar menarik. Udah begitu, si gueh juga lagi pusing berat. Liat Aer di Rawa, ditambah ditemani suara kodok yang mendamaikan jiwa, rasanya jadi melihat 'Kemilau Cinta Kamila' dan merasakan indahnya 'Cinta Fitri.' Namun, dengan berat hati, ajakan si Yaya mancing saya tolak. Kendati keputusan itu saya sesalkan juga ketika melihat si Yaya menghilang di ujung gang.



Tepat pukul 10.00 WIB si Juned menelepon saya. Katanya: "Halo Mang! si Dadang ngajakin makan-makan nih. Kita kongkow di rumahnya, mumpung dia lagi libur. Ada si Asep sama si Jangkung! Bininya si Dadang mau bikin nasi liwet spesial pake jengkol."

"Kapan uy? tar malem?" jawab saya agak meringis.

"Tahun depan Mang! Ah, lu nanya lagih, sekarang lah! mau gua jemput ke rumah?"

"Engga Jun, gua gak ikut. Anak kucing gua si Roni Item kemaren ulangan matematiknya jeblog. Jadi gua harus ngadep gurunya sekalian bayar SPP yang nunggak gara-gara kepake buat beli pulsa!"

"Alesan apaan tuh? Gak kreatif... Ya udah, salam buat Pak Kepsek Sule pesek yak!" Dan telepon pun bunyi : tut tut tut

suara kentut di atas genting. Pipisnya turuuun , tidak terkira. Cobalah tengook dahan dan ranting.. Pohon dan kebon basah seeemuuuaaaaa.



Oh Tuhan. Godaan ini datang silih berganti. Karena kesel, hape pun dimatikan dan pintu gerbang digembok. Mudah-mudahan sekarang aman sentosa. Menghantarkan Rakyat Indonesia, ke depan pintu gerbang kemerdekaan indonesia. Yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Maka atas berr.... Halah ngaco kan jadinyah. Sekarang saatnya manteng depan laptop sambil dengerin lagu Mahkota yang judulnya 'Jangan Ganggu Dulu' versi remix.